Pura Ulun Danu Beratan ini di bangun sebelum didirikan nya Pura Taman Ayun, dimana Pura Taman Ayun ini upacara pendirian nya dilaksanakan pada hari Anggara Kliwon Medangsia tahun Saka Sad Bhuta Yaksa Dewa yaitu tahun caka 1556 (1634 M). Berdasarkan uraian dalam lontar Babad Mengwi tersebut dapat diketahui bahwa Pura Ulun Danu Beratan didirikan sebelum tahun saka 1556, oleh I Gusti Agung Putu. Semenjak pendirian pura tesebut termasyurlah kerajaan Mengwi, dan I Gusti Agung Putu digelari oleh rakyatnya " I Gusti Agung Sakti".
Pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 komplek pura yaitu:
Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa berfungsi untuk memuja keagungan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti, guna memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia dan lestarinya alam semesta.
Di dalam kompleks pura setidaknya terdapat beberapa bangunan bermenara yang memiliki atap bertingkat, yaitu menara dengan atap 11 tingkat, 7 tingkat, dan 3 tingkat. Keberadaan menara bertingkat tersebut menggambarkan pemujaan terhadap tiga dewa, yakni Dewa Wisnu (11 tingkat), Dewa Brahma (7 tingkat), dan Dewa Siwa (3 tingkat).
Meskipun dianggap sebagai tempat pemujaan kepada trimurti (Dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa), namun sebetulnya pura ini semula merupakan tempat untuk memuja Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang merupakan simbol bagi kesuburan. Perkiraan ini merujuk pada kosmologi tentang lingga dan yoni, di mana Gunung Mangu (tempat bertapa I Gusti Agung Putu) dianggap sebagai lingga dan Danau Beratan sebagai yoni. Simbol-simbol lingga yoni secara nyata juga nampak pada beberapa bagian dalam kompleks pura ini. Simbol lingga-yoni merupakan simbol pemujaan kepada Dewa Siwa dan Dewi Parwati.
Dugaan bahwa pura ini merupakan tempat pemujaan terhadap Siwa-Parwati makin menguat melihat fungsi pura ini sebagai pura subak, yakni pura yang disokong oleh organisasi sosial masyarakat Bali yang mengatur pembagian irigasi pertanian. Pura subak sendiri khusus dibuat untuk memohon kesuburan bagi pertanian. Para penganut Hindu yang bersembahyang di pura ini memuja dewi danau, atau dalam bahasa setempat disebut dewi danu (disebut juga dewi air). Dewi danu ini kemungkinan menunjuk kepada sosok Parwati, istri Siwa yang merupakan simbol kesuburan. Di sini nampak bahwa aktivitas pertanian di sekitar danau tak hanya didukung oleh sistem peririgasian yang baik, tetapi juga ditunjang oleh ritual agama yang kuat. Pura Ulun Danu Beratan memberikan gambaran yang cukup jelas bagaimana organisasi subak mengatur sistem irigasi pertanian dan sekaligus membangun sarana peribadatan untuk mengupayakan hasil panen yang melimpah.
Selain menjadi situs bersejarah yang merekam perkembangan ajaran Hindu pada masa Kerajaan Mengwi, kompleks Pura Ulun Danu Beratan juga menyimpan artefak lain yang berasal dari zaman megalitik (sekitar 500 tahun sebelum Masehi). Di sebelah kiri halaman depan Pura Ulun Danu Beratan dapat disaksikan sebuah sarkofagus dan papan batu. Sarkofagus merupakan peti batu yang biasa difungsikan untuk menyimpan mayat (kubur batu), sementara papan batu yang terdapat di lokasi yang sama diperkirakan sebagai tempat pemujaan masyarakat prasejarah. Temuan ini menunjukkan bahwa tempat dibangunnya pura sebelumnya juga telah digunakan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat arkais.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar